Pertemuan Kedua: A Short Meeting
Kota Penuh Keajaiban—Jakarta
Langit di bulan November masih gelap dihiaskan bintang-bintang. Hanya ada aku, seorang petugas keamanan, dan bapak-bapak yang duduk dengan mata terpejam di kursi tunggu pool bus Terminal Lebak Bulus. Udara saat itu begitu hangat untuk suasana sepagi ini.
Seseorang yang kutemui di bulan Oktober silam menawarkan bantuan untuk menjemputku di terminal ini sebelumnya, tetapi aku menolak tawarannya. Aku mulai menyesali keputusanku sejak aku menginjakkan kaki pagi ini—setelah tujuh tahun lamanya tidak kesini.
Ini sudah bukan pagi lagi, bahkan aku tidak mendengar ayam berkokok disini. Arlojiku masih menunjukkan pukul dua dini hari. Tiga jam lebih awal dari perkiraan jadwal yang tertera di karcis. Rasanya sulit sekali berpikir tentang apa yang akan kulakukan selanjutnya, dengan kepala pening karena mabuk perjalanan. Mata sayuku menangkap bapak-bapak yang sedang duduk tertidur dengan nyaman sekali di atas kursi tunggu pool. Ternyata aku juga bisa melakukannya sampai jam pertama keberangkatan Trans Jakarta.
Lagipula aku menolak tawarannya karena aku ingin mengunjungi sahabatku di Depok dan aku akan memulai kembali petualanganku sendiri di kota besar ini.
Kota Penuh Harapan—Depok
Ini adalah kali kedua aku mengunjungi Depok. Kota yang selalu dengan susah payah kudatangi. Kali pertama aku mengunjungi kota ini, aku baru pulih dari cedera kepalaku, dengan plester kasa di dahi kiri, aku menaiki Trans Jakarta bersama teman sekamarku untuk pertama kalinya. Kali kedua aku mengunjungi kota ini, aku hampir tersesat karena drama rute Trans Jakarta. Beruntung halte itu memiliki petugas yang sabar dan cekatan membantu penumpang kebingungan sepertiku.
Kuakhiri petualanganku di suatu terminal kecil bernama Terminal Sawangan, untuk selanjutnya singgah di rumah sahabatku sebelum agendaku berjumpa dengan seseorang yang kutemui di bulan Oktober silam.
Sebagai ganti menolak tawaran bantuannya kemarin, aku meminta tolong kepadanya untuk menemaniku menghadiri pesta pernikahan teman sekamarku saat di Bekasi—yang juga sempat menjadi rekan kerjanya. Ini adalah kali pertama dalam hidupku aku menghadiri acara pernikahan bersama seorang pria. Dialah orang pertama yang kuajak dengan sebegitu yakinnya. Pada akhirnya kami bertemu lagi di Depok. Pertemuan kami akhirnya terlaksana di kota yang selalu sibuk ini.
Begitu sulit memperkirakan waktu di kota ini, setidaknya bagiku yang masih terbiasa dengan kehidupan serba santai di kota asalku. Kepayahanku ini membuatku datang terlambat ditempat yang sudah kami berdua sepakati.
Aku melihat sosok pria berpakaian batik hitam lengan panjang yang begitu rapi sedang berdiri membelakangiku. Aku panggil namanya seolah-olah kami baru kemarin bertemu. Dia sangat teduh, wangi dan rapi dengan model rambut yang berbeda dengan saat pertama kali kami bertemu. Aku mengajaknya untuk masuk ke lokasi acara. Payahnya kenapa saat itu aku tidak menggandengnya? Padahal kuminta padanya untuk menjadi gandenganku besok.
Tak lain dan tak bukan ialah karena aku tidak berani dan sebegitu groginya diriku. Aku sangat menikmati berada di sampingnya, didekatnya, tapi kita berdua tampak seperti pasangan yang canggung dan tampak malu-malu. Beruntung, ada sosok yang sama-sama kami kenal menyapa kami berdua. Aku merasa suasana saat itu lebih mencair setelahnya.
Dia menemaniku makan dan minum. Dia begitu baik dan pengertian, sampai dia ingin menyuapiku seporsi kecil bakso malang. Aku menolaknya dengan alasan aku sudah kenyang—disertai rasa pekewuh juga. Belakangan aku menyesali keputusanku lagi.
Sebelum meninggalkan acara, kami memutuskan untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan pertemuan kedua kami. Setelah kulihat-lihat, foto kami berdua sangat canggung dan tampak malu-malu —lagi. Sampai ada sosok yang berkata bahwa kami harus bergandengan saat berfoto. Aku melawan semua rasa canggungku dan berharap foto ini menjadi foto yang bagus. Harapan tinggalah harapan, dan ya—hasil akhir fotonya mewakili betapa aku kalah melawan rasa canggungku.
Acara sudah selesai dan kami menepi mencari tempat sejuk untuk duduk menjauhi hiruk pikuk keramaian. Suasana saat itu kian teduh, awan-awan kelabu mulai berjalan beriringan melewati langit di atas kepala kami. Dilihatnya bangku di sudut halaman depan gedung serbaguna yang bisa kami duduki. Obrolan singkat tentang masa depan menjadi topik utama saat itu. Kami mendiskusikan banyak hal tentang sesuatu yang bahkan tak terpikirkan olehku sebelumnya, dan anehnya aku menyukai obrolan siang itu. Masa lalu, rasa takut, masa kini, harapan, dan masa depan berlomba menjadi topik yang hangat kami diskusikan. Tak terasa awan kelabu sudah berkumpul di atas kepala kami. Sayangnya waktu membatasi pertemuan kami berdua sore itu. Kami berpisah dan berjanji untuk bertemu lagi esok lusa.
Kota Penuh Kenangan—Bekasi
Petualanganku berikutnya mengharuskan diri sendiri untuk menggeret koper dari kota Depok menuju kota Bekasi. Ide cemerlang tanpa perhitungan melintas di kepalaku. Kali ini aku akan bertualang menjelajahi transportasi umum di ibukota ini. Rute Trans Jakarta, MRT, dan LRT sudah terlintas di kepala. Perjalanan selama tiga jam membuatku kewalahan hingga akhirnya aku meminta tolong padanya untuk menjemputku di Stasiun LRT Jati Mulya. Beruntung jam tiga sore itu sangatlah cerah.
Stasiun LRT Jati Mulya adalah tempat baru buatku. Terakhir aku tinggal di kota ini tidak ada bangunan ini sebelumnya. Stasiun yang indah, sederhana tapi fungsional. Sebelum keluar stasiun, kusempatkan diri untuk mampir sebentar ke kamar kecil.
Aku sudah memasuki lift stasiun ketika aku melihat seorang pria dengan setelan seragam kerja dan berjaket abu-abu lewat dengan terburu-buru di depanku. Aku menatap matanya, dan dia balik menatap mataku. Hening sebentar. Segera kupencet tombol lift supaya pintu tidak segera tertutup. Masih dalam suasana terkejut aku memanggilnya masuk ke dalam lift. Kami sama-sama tertegun tentang kebetulan yang terjadi. Kami bisa saja ketlisipan dan saling mencari seperti di sinetron yang biasa ibu tonton, tapi nyatanya tidak. Kami bertemu di waktu yang tepat—kami saling menemukan di saat pintu lift masih terbuka lebar.
Kami menyusuri Jl. HM Joyo Martono hingga Jl. Pahlawan sambil memutar ulang kenangan di sepanjang jalan itu. Enam tahun silam, entah keberuntungan apa yang membawaku ke kota ini. Menurutku kota ini adalah kota yang keras. Semua orang memiliki kisah perjuangannya masing-masing di sini.
Tibalah aku di suatu bangunan tempatku bekerja dulu. Tempat yang biasa kutengok melalui street view Google Maps, sekarang aku bisa memandangnya dengan mataku sendiri. Harus kuakui betapa aku merindukan tempat ini. Tempat dimana aku pernah menangis, marah, tersenyum hingga tertawa bahagia. Kuhabiskan sore itu memecah kerinduan dengan orang-orang yang sangat kusayangi.
Langit petang cerah berbintang. Kami berboncengan menuju stasiun tempatku bersiap pulang. Rasa syukur itu terpancar melihat aku pulang ditemani orang-orang yang menyayangiku seapa adanya. Hatiku bertambah hangat ketika mereka memelukku dan air mataku hampir mengalir karenanya. Kuyakinkan diriku sendiri kalau suatu saat nanti aku pasti akan bertemu dengan mereka lagi.
Stasiun Bekasi Timur mengawali perjalanan pulangku. Kali ini aku bersama pria yang masih setia menemaniku. Baru kutahu arsitektur bangunan sisi belakang stasiun ini tidak ramah bagi petualang yang membawa banyak barang. Satu-satunya akses menuju peron adalah melewati puluhan anak tangga. Dengan sigap, dia segera mengangkat koperku tanpa aku memintanya terlebih dahulu.
Kami harus menaiki KRL terlebih dahulu untuk kemudian transit di stasiun utama, Stasiun Bekasi. Pintu KRL segera menutup, kami berdiri di depan pintu karena saat itu kereta sangat penuh. Aku sempat memandanginya dari pantulan kaca pintu sampai pintu itu terbuka dan kami keluar.
Stasiun utama ini tampak jauh berbeda dengan terakhir kali aku berada disini. Kami menuju lantai atas untuk melakukan check in keberangkatan. Lagi-lagi kami menemui jalur penuh anak tangga. Saat itu dia adalah orang paling sibuk di dunia. Tangan kanannya menggenggam koper dan tangan kirinya menggenggam tanganku di tengah keramaian orang yang berlalu lalang. Pada akhirnya aku merasakan kembali kehangatan yang dulu aku rasakan.
Kami berdua duduk di depan pintu masuk keberangkatan kereta jarak jauh. Tiba-tiba dia izin padaku untuk pergi menjelajah sebentar.
Orang-orang berlalu lalang terburu-buru pulang. Raut muka mereka nampak lelah dan kusut. Senyum hangat itu terasa sangat mencolok dibandingkan semua yang ada di kerumunan malam itu.
Dia menghampiriku membawa air minum dan roti bundar rasa kopi favoritku. Kami makan bersama sambil memandangi warga Bekasi sepulang kerja, bahkan kami menghitung ada berapa banyak orang yang berbaju mirip dengannya. Ah ya, lagi-lagi dia memakai baju yang sama ketika dia mengunjungiku ke Solo untuk pertama kali.
Iseng, tak lupa kami sempatkan berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Rambutnya bergelombang seperti rambut superman.
Tak terasa waktu sudah mengusir kami berdua untuk beranjak pergi. Aku berpisah dengannya. Kami berpamitan, aku ke ruang tunggu keberangkatan kereta jarak jauh sedangkan dia turun ke peron KRL untuk pulang.
Perbincangan seru kami terpaksa berlanjut lewat chat. Kupikir dia sudah sudah menaiki kereta pulang, ternyata dia sedang duduk di peron, katanya. Aku menuruni eskalator menuju peron kereta jarak jauh untuk melihatnya dari kejauhan.
Suara KRL arah Cikarang dan kereta lain menggema di seluruh area stasiun. Kedatangan dua kereta tersebut membatasi lapang pandang kami.
Suara KRL arah Cikarang menggema lagi. Sepertinya dia sudah dalam perjalanan pulang.
Aku melanjutkan menggeret koperku ke arah peron gerbong ekonomi nomor dua. Tak lupa untuk mengabadikan berbagai sudut stasiun yang kurasa estetik dan bagus untuk melengkapi videoku. Saat aku berbalik badan, ternyata dia masih disana. Dia duduk di seberangku sambil tersenyum lebar. Tepat di depan kursi tunggu peron yang kududuki. Dia melambai padaku, kubalas dengan melambaikan tanganku. Rasa kaget tercampur bahagia menyerang bersamaan. Kulemparkan pandangan kenapa-kau-masih-disini padanya, dan dia hanya tertawa kecil.
Keretaku datang. Aku benar-benar pulang kembali ke kenyataan. Aku pamit sekali lagi padanya. Kereta perlahan mulai melaju. Nampaknya aku terlalu jauh dari kursiku. Aku berjalan menggeret koper di dalam kereta, sambil sesekali menengok ke jendela. Dia masih disana. Aku melambaikan tanganku lagi kali ini dari dalam kereta. Astaga, dia masih melambaikan tangan sambil berjalan cepat mengikuti keretaku berjalan. Aku terus melambai sampai dia tidak terlihat lagi.
Kursi biru tua empuk dan nyaman menyambutku. Aku masih tidak menyangka aku baru saja mewujudkan impianku, bernostalgia mengunjungi teman-teman lamaku di Bekasi, bahkan berkali lipat lebih indah dari rencanaku semula. Dari yang semula sendiri, menjadi ada sosok yang menemani.
Aku berterima kasih padanya atas semua kebaikan hati dan meminta maaf atas kerepotan yang kuperbuat. Katanya merepotkan dan memberi kesempatan itu beda tipis. Perasaan lega muncul saat tahu dia senang mengambil kesempatan itu, alih-alih menolaknya
Pertemuan kedua kali ini sekaligus pertemuan terakhir kami di tahun 2025. Kami sepakat untuk bertemu lagi di tahun 2026. Sampai jumpa di kesempatan menyenangkan berikutnya!
Lampiran
![]() |
| Halte Lebak Bulus di jam 04.15 WIB |
![]() |
| Bertemu warlok yang sedang terlelap sebelum bersiap bertugas |
![]() |
| Kondangan pertama kami |
![]() |
| Petualangan kecil dimulai |
![]() |
| Tidak pernah merasa semenyenangkan ini pergi ke Bekasi |
![]() | |
| Suasana langit Bekasi yang indah sore itu |
![]() |
| Dia dengan rambut gelombang-seperti-superman-nya |
![]() |
| Definisi rasa kaget dan bahagia |


.jpeg)



.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)