13 Jam Memutar Waktu di Solo━Afi's Point of View
Minggu Kedua di Bulan Oktober
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Pagi yang cerah menyambutku. Hari Minggu kali ini aku menjadi seorang morning person. Aku ada janji untuk menemani seseorang berkeliling kota Solo seharian ini. Tamuku ini bukanlah tamu biasa. Dia datang dari tempat yang sangat jauh—sebut saja planet Bekasi.
Stasiun Solo Balapan
Sampailah aku di depan tulisan Stasiun Solo Balapan dekat gerbong lokomotif D30176.
Aku menoleh ke belakang dan kulihat dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku. Seorang pria berkemeja flanel kotak-kotak biru dongker dengan aksen warna hitam dan putih, terlihat serasi dengan kemeja flanel kotak-kotak biru dongker dan oranye muda dengan aksen warna hitam yang kukenakan saat itu.
Perasaan yang tidak bisa dideskripsikan mulai merasuki diriku. Dia adalah orang yang tidak pernah kuduga akan muncul lagi di kehidupanku. Kami bertemu untuk terakhir kalinya sejak lima tahun silam. Kini dia dengan segala lelucon dan kerandomannya terasa masih sama seperti saat terakhir kali kita berjumpa. Kami mengobrol seolah-olah baru kemarin sore bertemu.
Manusia satu ini—kira-kira apa yang membuatnya rela menempuh ratusan kilometer demi menghabiskan waktu kurang dari dua puluh empat jam bersamaku.
SSB Soto Boyolali
Perjalanan jauh menguras banyak energi. Kami memutuskan untuk mengisi perut dengan soto bening dan teh. Suasana saat itu sedang ramai dan kami kebagian tempat duduk di luar warung. Obrolan ringan dan update kehidupan menemani setiap sruputan kuah soto yang hangat. Dia yang selama ini hanya berlalu lalang numpang lewat di ruanganku kini berada di depan mataku, bertukar senyum, berbagi cerita sambil makan soto—di Solo pula. Aku tidak tahu kejutan apa yang akan semesta hadirkan untukku.
Sepanjang Jalan Menuju Laweyan
Waktu menunjukkan pukul 07.35 pagi. Kami bergegas meninggalkan mangkok soto yang sudah habis menuju parkiran motor. Dia menawarkan diri untuk berada di depan. Awalnya aku sempat ingin menolak karena dia pasti lelah setelah semalaman menempuh perjalanan jauh. Kuiyakan tawarannya karena kupikir-pikir momen seperti ini entah kapan bisa terulang kembali. Kami melaju pelan sambil menikmati hembusan angin Solo di Minggu pagi.
Lorong Waktu Laweyan
Matahari menyorot begitu teriknya. Agenda kami yang pertama adalah mengikuti Soerakarta Walking Tour : Lorong Waktu Laweyan.
Petualangan dimulai dari Masjid Laweyan. Kami menyusuri pemukiman saudagar batik di masa itu. Gang sempit dengan paving block bermotif mega mendung dan rumah-rumah besar dengan tembok tinggi mengelilingi kami. Pemandu tour yang jenaka menambah serunya petualangan penuh sejarah ini.
Titik sejarah kedua adalah mengunjungi kediaman pengrajin batik. Kami duduk di kursi kayu panjang dengan tiang listrik di tengah-tengah kami berdua. Sudut rumah yang indah dihiasi dengan lampu jalanan yang estetik. Kami sempat berpandangan sebentar, mengobrol ringan hingga menikmati keheningan.
Aku beranjak menuju pohon bunga kertas berwarna merah muda. Ia mengarahkan kamera ponselnya kearahku. Tanpa aba-aba dia menekan shutter kamera dengan begitu yakin. Aku suka memotret, tapi kali ini aku menjadi objek yang dipotret. Hal tidak biasa ini membuatku tersenyum dan bergaya dengan canggung. Anehnya semua hasil jepretannya begitu sempurna untuk seseorang yang kaku dalam bergaya sepertiku.
Titik selanjutnya berhenti di tempat pembuatan Ledre Laweyan. Ledre adalah salah satu kudapan tradisional khas kota Solo yang terbuat dari ketan dan kelapa. Kami menikmati ledre panas yang baru saja matang. Rasa gurih kelapa dan ketan yang bercampur dengan manisnya pisang dan coklat meluncur dengan sopan melewati lidah. Semuanya sempurna, kudapan manis untuk menikmati kebahagiaan yang manis.
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Petualangan menyusuri lorong waktu tanpa terasa sudah tiba di penghujung acara dan keinginanku untuk menghentikan waktu kian memuncak.
Bakso Pak Ruk
Jam sudah menunjukkan waktu tengah hari. Awan di langit kian mengumpul menjadi sekumpulan awan abu-abu. Makanan berkuah nampak sangat cocok untuk suasana siang itu.
Kami memutuskan untuk menyantap bakso, dan tibalah kami di warung Bakso Pak Ruk. Beruntung sekali saat kami kesana warung tampak sepi. Warung bakso ini selalu ramai tiap kali aku lewat sepulang kerja. Bisa dibilang kami sangat beruntung. Aku memesan bakso kosongan dan dia memesan bakso komplit. Kuah yang asin dan ringan membasuh tenggorokan bersama dengan bulatan daging bertepung yang gurih itu.
Kami mengisi kekosongan dengan bertukar cerita mengenai hobinya sebagai penulis blog. Dia adalah sosok yang sangat jenius, dia menggunakan blog untuk kepentingan profesi sekaligus hobinya. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui adalah peribahasa yang pas untuk menggambarkan hal ini. Sosis basah khas Solo pun turut meramaikan obrolan ringan kami berdua siang itu.
Taman Balekambang
Awan menutupi sorotan terik matahari, menjadikan siang yang cerah tapi teduh. Taman merupakan tempat yang sempurna untuk menikmati cuaca yang bersahabat ini bersama tamu spesialku. Kami duduk beratapkan langit, dibawah teduhnya pohon dan beralaskan rumput hijau. Tentu kami tidak sendiri, orang-orang ramai berlalu lalang, binatang sejenis burung dan tupai memamerkan aksinya. Bercengkerama dengan alam adalah salah satu cara menikmati hidup. Banyak hal yang kami bicarakan diselingi tawa yang menambah kebahagiaan siang ini.
Sampai tibalah saat dia mengatakan ingin mencoba mengendarai kendaraan roda empat mengelilingi taman. Aku terperangah tetapi bersemangat pada saat itu juga. Seumur-umur aku belum pernah menaikinya, jadi aku sangat senang bisa mencoba untuk pertama kalinya. Kami berdua menaiki kendaraan roda empat itu, aku memercayainya untuk berada di depan, sedangkan aku di belakang. Rasanya menyenangkan sekali. Kami seolah sedang berada di Sanhok, suatu pulau di game PUBG yang sering kami mainkan bersama lima tahun silam. Riuh tawa bahagia kami turut serta memeriahkan suasana taman siang itu.
Awalnya kupikir menghabiskan waktu di taman akan terasa sangat lama, tapi kenyataannya belum semuanya tersampaikan waktu sudah menunjukkan bahwa sore telah tiba.
Sate Kambing Bersaudara
Waktu berjalan sangat cepat, tak terasa sore hari datang menghampiri. Sebelum memulai perjalanan yang jauh, kami memutuskan untuk mengisi perut. Pilihan kami berdua jatuh kepada menu perkambingan. Google Maps membantu kami memilih dan memilah warung yang direkomendasikan oleh banyak orang. Jarak menjadi pertimbangan kami untuk memilih warung yang tidak jauh dari Stasiun Solo Balapan.
Warung Sate Kambing Pak Mo adalah pilihan pertama kami, sedangkan pilihan kedua kami adalah Warung Sate Kambing Pak Kasdi. Jarak yang tidak terlalu jauh antara dua warung itu membuat kami beranggapan bahwa mereka masih satu keluarga besar. Kami berasumsi mungkin salah satu dari mereka adalah sang paman, dan kamipun berkelakar tentang hal itu.
Tibalah kami di warung pilihan pertama. Warung itu tampak sepi. Kami hampir berbahagia sampai pelayan datang dan mengatakan semua menu kambingnya habis kecuali sate buntel. Ah, kami sempat merasa sedih, tapi tidak apa-apa mungkin memang belum rezeki. Adapun untungnya kami menyiapkan rencana kedua untuk pergi ke warung yang kami anggap milik sang paman.
Kebalikan dari warung yang tadi, warung sang paman kali ini sangatlah ramai. Beruntungnya di hari itu bertepatan dengan acara Haul Solo 2025 sehingga area sekitar stasiun sangatlah ramai. Kami tidak mendapat tempat duduk. Paman warung ini sepertinya kewalahan menghadapi banyaknya pelanggan.
Kami menunggu sekitar 30-45 menit untuk mendapatkan tempat duduk. Kami menunggu di trotoar tepi jalan raya. Dia menghadap ke jalanan dan berkata bahwa Solo adalah kota yang menyenangkan. Aku tertegun mendengarnya. Aku perlu berbelas-belas tahun tinggal disini untuk mengatakan hal itu, dan dia dengan singkatnya mendeklarasikan itu. Dan memang aku menyetujuinya. Solo memang menyenangkan.
Kami memesan sate kambing dan sate buntel. Kulihat dia sepertinya kesulitan memakan sate itu karena alot, tetapi dia tetap membantuku menghabiskannya.
Petualangan Malam Hari
Matahari tenggelam dengan sangat bersemangat. Waktu kami yang tersisa kian menipis.
Aku sudah khawatir aku tidak membawakan apapun untuknya selain hadiah yang kusimpan di jok motor beat yang kecil itu. Rasanya tak sebanding dengan bingkisan yang ia bawa dari Bekasi untukku. Kurasa ini waktunya, kukeluarkan hadiah itu dengan malu-malu, kuberikan padanya sambil berpesan supaya dibuka nanti saja karena aku masih merasa konyol memberikan benda kecil itu untuknya. Berulang kali terlintas di pikiranku, apakah aku sudah benar memberi hadiah itu untuknya? Bahkan setelah hadiah itu sudah berada di dalam ranselnya.
Kami hendak menuju ke ruang tunggu stasiun sampai kami melupakan satu hal━toko oleh-oleh. Kami bergegas keluar dari Stasiun Solo Balapan menuju Pasar Jongke. Kami melewati jalur yang sama seperti jalur kami berangkat di pagi hari menuju Laweyan. Rasanya seperti waktu berputar memutar kenangan indah yang pernah ada dan tidak akan pernah berakhir.
Aku sengaja melewatkannya jalan memutar dan jalan yang lebih jauh daripada biasanya. Entah mengapa aku menikmati momen ini dan tidak ingin terburu-buru. Setelah Pasar Jongke, kami melewati sepanjang jalan Slamet Riyadi, melintasi Pasar Gede, Masjid Syekh Zayed, hingga sampailah ke tujuan akhir di Stasiun Solo Balapan.
Stasiun Solo Alapan
Lampu huruf B di tulisan Stasiun Solo Balapan redup dan terjatuh, jadilah Stasiun Solo Alapan terbaca dengan jelas. Kami terkikik karenanya.
Segera kami memasuki ruang tunggu kereta jarak jauh stasiun untuk beristirahat sambil menunggu kereta menuju Bekasi tiba. Aku terdiam. Diantara kami berdua, aku nampak sangat menikmati hening. Aku sedang fokus mencerna dan merasakan emosiku. Bagaimana tidak, aku akan ditinggal sosok yang membuatku bahagia satu hari penuh ini. Kepalaku sedang berdemo memprotes mengapa dia tidak tinggal lebih lama lagi. Aku sudah hampir menghela nafas ketika dia memecah keheningan kami berdua. Dia mengatakan banyak terima kasih kepadaku, di mana harusnya aku yang mengatakan banyak terima kasih padanya.
Momen penuh terima kasih itu ditutup dengan jabat tangan darinya. Aku menjabat tangannya. Rasa hangat tangannya membuatku termenung sampai aku tersadar ini adalah jabat tangan terlama yang pernah kulakukan. Waktu terasa kejam menyadarkan kami berdua. Kesadaranku membuatku mengucapkan sampai jumpa lagi. Tentu saja aku sangat ingin kami berdua bisa bertemu lagi, dengan waktu yang lebih lama.
Aku beranjak meninggalkan ruang tunggu stasiun. Dia mengantarku sampai ke teras luar stasiun. Aku lupa berterima kasih padanya karena sudah mengantarku. Aku menoleh dan melambaikan tangan padanya, dan dia membalas lambaian tanganku. Lagi-lagi aku tidak percaya seseorang yang hadir di hidupku lima tahun silam datang lagi menemuiku dengan situasi yang jauh berbeda. Aku menoleh dan melambaikan tangan padanya, dan dia membalas lambaian tanganku. Sejujurnya dari dalam hatiku aku tidak ingin meninggalkannya. Aku menoleh dan melambaikan tangan padanya, kali ini lebih jauh, tetapi dia masih saja membalas lambaian tanganku. Kurasa dia terus menunggu disana sampai aku hilang dari pandangannya.
Seketika terasa hampa. Entah aku merasa takut atau aku merasa sedih. Aku duduk termenung di atas motorku sambil mengulang momen yang sudah terlewati hari ini. Mataku berkaca-kaca. Beruntung aku memakai kaca helm berwarna gelap, bahkan penjaga karcis stasiun pun tampaknya tidak bisa melihatnya.
Pulang
Malam hari menyambut kepulanganku, aku mengadukan semuanya kepada Sang Pencipta. Bisa dibilang sekarang ini aku sudah di titik tidak berani lagi meminta kepadaNya. Jika ini semua sudah ada dalam kehendakNya maka akan kuikuti dengan senang hati apapun rencanaNya, aku akan pasrah dengan seluruh kehendakNya. Aku percaya Sang Pencipta adalah sebaik-baik perencana.
Catatan
P.S. Artikel ini ditulis olehku di awal bulan November lalu. Terima kasih untuk pemilik blog yang sudah bersabar menunggu kesiapanku berbagi cerita di platform online miliknya.
Lampiran
![]() |
| Pemukiman saudagar batik di Laweyan |
![]() |
| Halaman depan tempat pengrajin batik 'Pandono' |
![]() |
| Berfoto di depan bunga Bougenville berwarna pink━dipotret olehnya |
![]() |
| Berfoto di dalam bunker Setono━dipotret olehnya |
![]() |
| Berfoto di pos Setono 02━dipotret olehnya |
![]() |
| Makanan jadul khas Solo━Ledre |
![]() |
| Bakso Kosongan |
![]() |
| Bersiap mengelilingi Sanhok |
![]() |
| Sate Kambing dan Sate Buntel |
![]() |
| Penampakan Stasiun Solo alapan |
![]() |
| Penghuni jok motor yang minimalis itu━tampak sangat indah dengan puisi miliknya |


.jpeg)



.jpeg)


.jpeg)


